Mulai gratis

Cara menyusun anggaran rumah tangga yang dipakai beneran (contoh keluarga dengan penghasilan Rp 8 juta)

Anggaran keluarga yang realistis: 7 pos yang wajib ada, cara membagi peran suami-istri, dan contoh lengkap dengan angka Rp 8 juta per bulan. Termasuk pos yang paling sering lupa.

12 September 2026·7 menit baca

Anggaran rumah tangga yang gagal biasanya gagal bukan di angkanya, tapi di tiga hal: posnya terlalu banyak sampai tidak ada yang hafal, tidak ada pos untuk hal yang 'tidak tiap bulan', dan cuma satu orang yang tahu isinya. Artikel ini menyusun anggaran yang bisa dipegang dua orang - dengan contoh penghasilan gabungan Rp 8.000.000.

Tujuh pos, tidak lebih

PosContohNominalCatatan
Tempat tinggalCicilan/kontrak, listrik, air, wifiRp 2.400.00030%. Kalau lewat 35%, ini yang harus diperbaiki dulu
Makan & dapurBelanja mingguan, gas, galonRp 1.800.000Belanja mingguan lebih terkendali daripada bulanan
TransportBensin, parkir, ojek, servisRp 600.000Sisihkan Rp 100 ribu/bulan untuk servis walau belum waktunya
Anak & sekolahSPP, jajan, susu, popokRp 1.000.000Naik tiap tahun ajaran - cek ulang tiap Juli
Tabungan & daruratRekening terpisahRp 1.000.000Target darurat keluarga: 6x pengeluaran
Tidak tiap bulanPajak motor, mudik, kado, obatRp 500.000Pos yang paling sering lupa - lihat di bawah
Jajan & hiburanMakan di luar, langganan, hobiRp 700.000Dibagi dua: masing-masing punya jatah yang tidak perlu ditanya

Pos 'tidak tiap bulan' adalah yang membedakan

Pajak kendaraan Rp 300 ribu setahun, mudik Rp 2 juta, seragam sekolah Rp 500 ribu, hari raya, kado nikahan teman. Totalnya gampang menyentuh Rp 6 juta setahun = Rp 500 ribu per bulan. Kalau tidak disisihkan tiap bulan, tiap kali datang rasanya seperti 'tiba-tiba' - lalu ditutup dari tabungan atau dari paylater.

Caranya: satu rekening atau e-wallet khusus, transfer Rp 500 ribu tiap gajian, dan daftar tanggal-tanggalnya ditulis sekali di awal tahun.

Siapa pegang apa

Yang paling sering bikin ribut bukan jumlahnya, tapi ketidaktahuan. Pembagian yang jalan di banyak keluarga:

  • Pos tetap (tempat tinggal, tabungan, tidak-tiap-bulan) dibayar dari satu rekening bersama, otomatis di tanggal 1-3.
  • Pos harian (makan, transport, anak) dipegang siapa pun yang lebih sering belanja - tapi keduanya bisa melihat catatannya.
  • Jatah pribadi masing-masing tidak perlu dilaporkan. Ini bukan soal percaya; ini supaya tidak semua Rp 20 ribu jadi bahan diskusi.

Cara mencatat yang bertahan untuk dua orang

Satu spreadsheet yang diisi satu orang selalu berakhir sama: orang itu capek, yang lain tidak pernah buka. Yang bertahan adalah cara di mana masing-masing mencatat belanjanya sendiri, saat itu juga, ke satu tempat yang sama - dan tidak butuh lebih dari sepuluh detik. Kalau istri belanja sayur, dia yang catat 'sayur 45rb'. Kalau suami isi bensin, dia yang catat. Akhir bulan tinggal buka satu dashboard, bukan mencocokkan dua ingatan.

Angka Rp 8 juta di atas cuma contoh. Yang penting strukturnya: tujuh pos, satu pos untuk yang tidak rutin, dan dua orang yang melihat catatan yang sama.

Langkah berikutnya

Coba BukuTa untuk keluarga

Satu ruang keluarga, tiap anggota catat dari WhatsApp-nya sendiri. Anggaran per pos dan pengingat tagihan dihitung otomatis.

Coba BukuTa untuk keluarga

Baca juga